Tentang Korupsi lagi…

Dosen vs Polisi yang Mahasiswa

Suatu hari seorang dosen membuka proposal tesis seorang mahasiswa S2 (kebetulan mhasiswanya berprofesi sebagai polisi) di sebuah PT. Sebagai pembimbing dua, dia melakukan hal yang biasa dilakukan…..meneliti apa saja yang telah didiskusikan antara mahasiswa ybs dengan dosen pembimbing satu melalui buku konsultasi. Tiba-tiba sang dosen tertegun…..di dalam buku konsultasi ada amplop tertutup dengan tulisan nama si dosen. Dugaan si dosen isinya uang (dan tidak mungkin uang monopoli…) lalu pikiran buruk menerpa pikiran si dosen “apa maunya ?”.

Untuk memastikan dugaannnya, ditelponlah si mahasiswa bersangkutan. Lalu terjadilah percakapan yang menarik namun berujung pada kemarahan.  “Apa maksud anda dengan amplop ini ?” tanya si dosen. Lalu di seberang sana mahasiswa menjawab, “saya berharap ibu berkenan menerimanya…(sambil nyengir kuda….mungkin…)”. Lalu si dosen menjawab, “anda menghina saya ya (dengan menahan kemarahan)”…lalu telepon ditutup.
Tidak berapa lama telepon genggam si dosen berdering-dering…..bisa dipastikan dari si mahasiswa. Karena telepon tidak diangkat, lalu panggilan SMS datang bertubu-tubi…..isinya “mohon maaf …mohon ampun…..” dan sederet kata-kata “palsu” pemohonan maaf.

Si dosen masih terhenyak dengan kajadian tadi. Diterawang hatinya……ternyata….dia terluka. Sepanjang masa kerjanya yang hampir 27 tahun baru kali dia merasa “sangat terhina”.  Dia pikir sudah melakukan segalanya untuk mendidik dan memberikan pengajaran yang terbaik……aduh….”apakah aku keliru ?” isak sang dosen. “Aku bukanlah manusia suci….namun hanya pada pendidikan aku berharap……berharap bisa membentuk karakter anak bangsa yang memiliki keteguhan hati dan tanggungjawab. Aku paham betul bahwa berharap terlalu tinggi hanya akan melukai hati. Namun …..aku juga tak kan menghapus harapan itu. Meski mungkin hanya 5 diantara 100 orang mahasiswa yg berhasil, toh tetaplah itu bermakna untukku”. Jika pendidikan juga rusak oleh korupsi, lalu kemana lagi harapan si dosen harus ditumpukan ? Sementara untuk memeranginya butuh kekuataan yang luar biasa, karena yang dihadapi adalah tembok yang teramat kuat. Si dosen hanya berprinsip, “jika aku tak mampu mengubah dunia yang besar, biarlah aku mengubah dunia kecilku dengan kekuatan kecilku saja”.

Si mahasiswa yang polisi itu…..yang notabene seharusnya menjadi “tonggak utama” pemberantasan korupsi ternyata menjadi “pemain utama” korupsi di negeri ini. Banyak kasus korupsi di kepolisisan yang terungkap, dan yakin masih begitu banyak kasus yang “tidak mampu” diungkap. Berita ini mungkin sudah basi…..saking banyaknya….  Sehingga pada akhirnya hanya muncul kegeraman sembari teriak “sialaaaaaaaaaan lue”……..

Pembaca…..kira-kira ini cerita nyata atau khayalan ? Silakan menebak…..

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki. Tandai permalink.

10 Respon untuk Tentang Korupsi lagi…

  1. adhe arif berkata:

    ini kisah nyata… mudah-mudahan tidak terjadi pada ibu 😉
    saya suka kata-kata ini bu, “jika aku tak mampu mengubah dunia yang besar, biarlah aku mengubah dunia kecilku dengan kekuatan kecilku saja”

  2. Faiz_HI berkata:

    kisah nyata bu, soalnya tadi ibu juga cerita di perkuliahan..hehe
    salam kenal bu

  3. Amud Soenarya berkata:

    Hmmmmmm…cerita yg Heroik pada era millenium sekarang ini….
    Ooooo ya bu…lalu sampai kapan negeri ini bebbas dari belenggu KORUPSI…??
    Soalnya KORUPSI sudah menjadi budaya di Negeri tercinta ini…

    • Kushandayani berkata:

      Sepanjang manusia hidup maka “kejahatan” juga tetap hidup, sebagaimana “kebaikan” juga hidup. Yang kita lakukan hanyalah “memanaj” agar korupsi dapat ditekan seminim mungkin sehingga tidak menjadi ancaman kehidupan kita. itulah pentingnya pemimpin, dipilh untuk menjadi aktor utama memerangi “kejahatan”. Betul ?

  4. rofiul bahri berkata:

    ketika sholat saja di tggalkan oleh umatnya,maka sifat keji & kemunkaran akan slalu melekat di dalam tubuhnya……..
    karena”sesungguhnya sholat itu menghapus sgla sifat keji & kemungkran”…..

  5. Anisah Mubarokatin berkata:

    Kisah nyata ini Bu. 🙂
    Ada juga cerita tentang salah satu oknum polisi, yang melakukan “sesuatu” yang mungkin aneh tapi memang ada. Waktu itu ada seorang pengendara motor yang salah mengambil jalan jadi dia dianggap “over bodden” oleh seorang polisi yang menjaga pos. Pengendara itu disuruh menepi, kemudian ditanya kelengkapan suratnya. Sewaktu pengendara itu memberikan KTPnya, ternyata di belakang KTP itu ada selembar uang 20ribuan. Setelah memeriksa KTP si pengendara, KTPnya dikembalikan. Hanya KTPnya sementara uang 20ribuannya entah kemana. Jatuh mungkin, tapi jatuhnya ke kantong celana sepertinya. Saya yang melihatnya agak kikuk dan tidak percaya. Setelah si pengendara pergi, si polisi berkata pada rekannya “olih 20 ewu tok”. Saya ternganga, yang sewaktu itu ada beberapa meter di sebelahnya.
    Bukan masalah berapa nominal uangnya, tapi moralnya.

    • Kushandayani berkata:

      Itulah Anisah…..saya berharap dengan mengenali lingkungan kita….kita bisa belajar banyak darinya….mengambil yang baik dan menghindari yang jelek. Teruslah belajar yaaaa…..

  6. Jacobus Willaim T berkata:

    saya harap masih ada orang yang jujur dan bersih di negeri ini. walapun hanya sedikit..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *