Rektor

Rektor-rektor Administratif

Itu adalah judul tulisan Rhenald Kasali di Kompas (27 Agustus 2013), yang begitu “menggelitik” bagi komunitas akademik kampus, termasuk saya. Kenapa begitu ? Karena kami memiliki kegelisahan yang sama terhadap fenomena yang terjadi di kampus-kampus, utamanya di PTN. Saat ini menurut Rhenald Kasali kampus-kampus¬† telah dipimpin rektor-rektor administratif yang miskin daya ungkit pengaruh. Disebut demikian karena para rektor sekarang lebih sibuk mengurus penerimaan mahasiswa baru, administrasi keuangan (dengan SPJ yang sering bikin pusing), kepegawaian, pengukuhan guru besar, kenaikan jabatan dosen….yang kesemuanya bersifat administratif dan rutin !!

Bahkan menurut saya, hal ini menggejala pada semua posisi, dimana untuk menduduki posisi tertentu (dekan, ketua lembaga, ketua jurusan, dsb) syarat administratif (seperti kepangkatan, pengalaman kepanitiaan, pengalaman jabatan, dsb.) lebih utama dibanding substantif (karya publikasi, gagasan/ide pengembangan, motivasi, dsb). Dengan syarat administrasi yang makin ketat, tidak memungkinkan lahirnya orang-orang baru (khususnya yang muda dan kreatif…….karena biasanya orang yang kreatif malah sering lupa mengurus kenaikan pangkat). Situasi ini berbanding terbalik dengan tingkat kecepatan perubahan (keilmuan maupun realitas sosial) yang ada di sekitar kita.

Padahal dunia pendidikan adalah harapan bagi terciptanya insan-insan kreatif, mengingat pada dasarnya ruh pendidikan adalah mendorong terciptanya siswa/mahasiswa yang kreatif. Saya sangat yakin bahwa dengan kreatifitas akan membuat mahasiswa selalu mampu menciptakan solusi….dengan demikian¬† tidak mungkin mengahadapi kebuntuan. Namun untuk menuju ke arah itu dibutuhkan proses yang seringkali panjang dan membutuhkan keteguhan hati yang sangat besar. Kalau para profesor (maaf) lebih terdorong untuk menggapai kekuasaan (jabatan struktural kampus) dengan mengabaikan ruh pendidikan, lalu siapa yang akan membekali para mahasiswa ?….siapa yang akan menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa ?…..dan…….siapa yang menyiapkan agen-agen perubahan ?¬† Bisakah dibayangkan…hasil pendidikan yang tidak kreatif dapat menghasilkan anak didik yang kreatif ? Lalu pada akhirnya seperti pernyataan Rhenald Kasali……miskin daya ungkit pengaruh.

Ayoook kita diskusikan hal ini…..tentu saja dengan santai yaaaa…..biar gak stress…….

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki dan tag , , . Tandai permalink.

10 Respon untuk Rektor

  1. budi lestari samadikun berkata:

    satu pemikiran dan pendapat, namun ada satu harapan hendaknya kalau sudah didiskusikan akan diikuti dengan satu langkah perubahan yang nyata,tidak hanya berhenti sebagai bahan pemikiran/ diskusi saja

  2. Rudi Ip 5 berkata:

    saya sepakat bu, sekarang orang yg berilmu cenderung menasbihkan dirinya pada jabatan yg lebih tinggi, mungkin cara pandang dan berfikirnya berbeda,

    • Kushandayani berkata:

      Rud..sebenarnya orang ingin berkuasa atau memiliki jabatan itu juga baik…karena dengan kekuasaan atau jabatan di tangan dia memiliki kesempatan untuk merubah. Namun yang seringkali terjadi adalah dia atau mereka yg sudah mendapat jabatan lupa “menggunakan” jabatan dan kekuasaan itu utk “merubah” ke arah lebih baik.

  3. DejehaveIP13 berkata:

    ternyata tidak hanya pemerintah di tingkat pusat yang terkena gejala ini,tapi juga pemerintahan yang ada di sekitar kita….manusia punya sifat dasar ingin mendapat pengakuan(famous), dan jabatan dipercaya dapat mengantarkan ke gerbang tersebut, tapi kalau memakai cara itu nggak akan abadi. Ada cara lain yang akan mengantarkan kita ke sana dan dapat bertahan lama atau lebih awet…yakni lewat dedikasi yang tulus.

  4. Anisah Mubarokatin berkata:

    Artikel penyegaran bagi mahasiswa untuk “membaca” apa yang ada di lingkungan. Mari berdiskusi (yang merupakan salah satu tahap belajar) untuk mencari suatu solusi, agar dapat memaknai apa arti sesungguhnya pendidikan yang kita enyam di tingkat ini.

  5. Edhi Setiawan berkata:

    Kreatifitas sering kali muncul pada saat mendapat tekanan baik tekanan waktu, tekanan kebutuhan dan lain lain. Mungkin dengan keterbatasan yang dimiliki mereka, masih bisa muncul sesuatu yang luar biasa, minimal untuk atasi kesibukan, kejenuhan rutinitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *