Citra PNS Muda

Muda, Potensial, dan Korup
Demikian judul berita di Kompas, 8 Desember 2011 yang mencerminkan kondisi PNS muda kita. Dua kata awal membanggakan, lalu ditutup dengan bom….Korup ! Biasanya istilah bom melekat dengan istilah terorisme. Namun di tulisan ini saya memaksudkannya dengan korupsi. Jangan-jangan memang bom itu tepat dilekatkan pada keduanya. Jika bom diledakkan oleh teroris, beberapa orang akan tewas ataupun menderita luka-luka, dari ringan sampai parah sesuai dengan posisi dekat jauhnya dengan “bomber”. Dalam fenomena korupsi, justru dampaknya lebih “maut”.  Orang lain mungkin tidak menderita fisik hebat kena pecahan bom ataupun paku-paku yang sengaja ditanam dalam bom, namun dalam jangka panjang justru bom korupsi mampu  “mematikan” jiwa-jiwa baik dalam kehidupan berbangsa. Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Catatan Kaki | Tag , , , , , | 4 Komentar

Buku Otonomi Daerah

Kushandajani, Cet-1-Semarang;Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, 2011, xvi+136 hlm, 21 cm.                       ISBN: 978-602-99912-0-8

Dipublikasi di Karya/Publikasi | Tag , , , , , | Tinggalkan Komentar

Aku memang wong ndeso

“Wong Ndeso” dalam Iklan Bisnis

Tukul berteriak keras pada para tukang dan buruh bangunan yang sedang merenovasi rumahnya “dasar ndeso !”, karena menganggap para pekerja tersebut gagap teknologi, tidak bisa menggunakan internet. Yang diteriaki tidak tersinggung….karena memang dibayar untuk itu. Yang tersinggung justru saya. Saya orang ndeso, dan bangga dengan kendesoan saya. Saya tumbuh berkembang di desa dengan segala entitasnya.

Dalam iklan tersebut Tukul (dan pembuat iklan) mungkin tidak sadar telah melakukan stigmatisasi terhadap “wong ndeso”, dimana orang desa itu identik dengan kebodohan, kemiskinan, wajah jelek, dan gaptek (gagap teknologi). Sementara orang-orang muda perkotaan digambarkan sangat enak: tidak bekerja keras, memiliki orang tua kaya, berbaju necis, menggunakan mobil mewah, dan berbicara “lu..gue”. Pandangan yang demikian jelas mendorong orang desa untuk tidak bangga dengan kendesoan mereka, sehingga mereka bisa bersikap rendah diri alias minder manakala berhadapan dengan “orang kota”.

Saya sedang tidak melakukan dikhotomi desa-kota, namun kata-kata dalam iklan justru memancing kesadaran kita bersama, bahwa ada cara pandang yang “negatif” terhadap desa. Senyatanya desa justru pendukung kehidupan ekonomi, budaya, sosial penduduk kota. Desa adalah penyangga kota. Demikian pula sebaiknya, kota adalah pasar  bagi desa. Apakah ada teriakan yang sama manakala orang kota tidak bisa memegang cangkul, menyiangi tanaman, memberi makan bebek, sampai memanen padi….dengan ucapan “dasar kota !”

Jadi….lebih baik diganti iklan tersebut…..agar iklan lebih mendorong dan solutif terhadap problem-problem desa, seperti orang desa yang tidak gaptek, cerdas, dan kratif !

Salam dari “wong ndeso”, mudah-mudahan orang-orang kota lebih cerdas dalam bertindak !

Kushandajani
Desa Lerep, Kecamatan Ungaran

Dipublikasi di Catatan Kaki | 7 Komentar

Harapan dan Kematian

Harapan dan Kematian : In Memoriam untuk Cak Wan

Juli 1981: Semua mahasiswa baru FISIP UNDIP dikumpulkan di sebelah gedung B. 101. Wajah-wajah penuh semangat (ingin tahu seperti apa jadi mahasiswa) menghiasi suasana saat itu. Namun ada juga rasa ketakutan yang terselip, mengingat kakak-kakak kelas hampir semuanya “bersandiwara” untuk galak dan berwajah sangar. Di hari itulah aku mengenal lebih banyak orang dengan latar belakang dan kultur yang berbeda. Di hari itu pula aku bertemu dengan teman-teman baru…….Cak Wan diantaranya. Laki-laki berbadan sedikit kerempeng, tinggi, dan berkulit gelap. Namun di antara semua hal yang terlihat, aku melihat pancaran mata yang menantang….ingin menaklukkan dunia….ingin meraih impian, meski jujur saja sampai sekarang aku masih bertanya sebenarnya apa impiannya. Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Catatan Kaki | Tinggalkan Komentar

Otonomi Daerah

MAKNA OTONOMI DAERAH DI WILAYAH LAUT
BAGI MASYARAKAT PESISIR KOTA SEMARANG
(Hasil penelitian yang dimuat dalam Jurnal Media Hukum-Vol. 17, No.1, Yogyakarta, Juni 2010, ISSN  0854-8919, Akreditasi No. 43/ DIKTI/Kep/2008)

Oleh: Kushandajani

Abstract

The main problem in this study was how the social significance of the existence of local autonomy regulation through the Law No. 32 of 2004. The specific question tried to be answered in this study werw whether the Law could preserve the social values rooted from the local culture, could increase the praticipation of the society, and finally could prosper the local society. Law No. 32 of 2004 contains local auhority in the sea area which includes two categories, “to receive provit share” and “to have the authority in the sea area” as far as 4 miles from coast line for the regions which own the sea. Through the delegation of authority in managing the coastal area, it was expected that the regional governance would develop the coastal society to be more prosper. The local government and the coastal society didn’t realize and could’t give an appropriate response to the change design in law. The aplication of local autonomy which regulated terrritorial power division hadn’t yet been meaningful for the coastal society in Semarang City. Society development programs could not increase the participation yet. Meanwhile, economic development hadn’t yet been able to increase the coastal society’s prosperity.’

Kata kunci: local autonomy, the coastal sociaty, prosperity .

Dipublikasi di Karya/Publikasi | Tag , , , , , , | Tinggalkan Komentar

Anak dan Sekolah

Anak dan Sekolah

Aku tercenung…ingat kata-kata Bapak dan Ibuku, “hiduplah yang sederhana, meski sebenarnya kamu mempunyai banyak…dan lebih banyak prihatin untuk keturunanmu….aja ngentek-ngentekna kemukten, ben anak-anakmu luwih mukti“. Waktu aku masih anak-anak jelas aku tidak begitu memahami makna kata-kata tersebut. Namun saat dewasa, lalu mengarungi kehidupan rumah tangga, dan lahirlah anak-anak dari rahimku, semakin paham aku dengan filsafah hidup tersebut.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Catatan Kaki | 2 Komentar

Dilema Keberadaan Pamong Desa

Yustisia, Jurnal Hukum, Ed. 76, Januari-April 2009, Tahun XIX, ISSN 0852-0941, Terakreditasi Depdiknas SK No. 43/DIKTI/Kep/ 2008.

DILEMA KEBERADAAN PAMONG DESA
Legal Gap Posisi dan Peran Pamong Desa dalam Konstruksi Hukum dan Sosial

oleh: Kushandajani

Abstract
Desa, the smallest government in Indonesia, has a multiple problem as like a country. According to Local Goverment Act 2004 (UU No. 32 2004), where Desa is sub division of regency (kabupaten), Desa has not change. It is moreover inclined from authonomy to administrative only. It was seen from posisition and role of pamong desas. They are shifted from socio-cultural to economy-political status.

Key Words: law, legal policy, legal gap, pamong desa.

Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Karya/Publikasi | Tag , , , , , , , | Tinggalkan Komentar

TUGAS KULIAH-1

Tugas Mata Kuliah: POLITIK DAN MANAJEMEN PERDESAAN

A. Perintah Kerja:

1.Dalam Semester genap 2010/2011 ini mahasiswa peserta mata    kuliah Politik dan Manajemen Perdesaan mendapat tugas penelitian ke desa, secara berkelompok, dengan tujuan agar peserta lebih memahami kehidupan perdesaan, lebih peka terhadap masalah sosial politik, dan mengasah kemampuan riset.
Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Bahan Kuliah | 2 Komentar

Haji Badal

Haji Badal bagi Kedua Orang Tuaku
Sebuah Perjalanan Spiritual dalam Proses ”menjadi” Orang Tua

2006. Kakiku melangkah pelan memasuki masjid Nabawi (Madinah). Kucari tempat bagi sholat tahajjudku. Berkelebat dalam ingatanku ayahku yang telah meninggal tahun 1997. Seorang ayah yang sangat penyayang dan sekaligus sebagai sahabat hati. Setelah sholat kuedarkan pandanganku di dalam masjid, sambil menerawang aku berniat…”setelah aku berhaji, berarti aku memenuhi syarat untuk menghajikan ayahku sembari kuajak ibuku berhaji bagi dirinya sendiri”. Khayalanku meledak dalam desakan kuat untuk kembali lagi berhaji bagi ayahku. Lanjutkan membaca

Dipublikasi di Catatan Kaki | 8 Komentar

Buku Ajar

Buku Ajar

Buku Ajar

Buku Ajar: Politik dan Manajemen Perdesaan/Kushandajani,- Semarang: Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro, 2009
vii+ 112 hlm; 21 cm
ISBN 978-979-18375-3-8

Dipublikasi di Karya/Publikasi | Tag , , , , , , , , , , | Tinggalkan Komentar