Miskin ?

Kemiskinan dan Peluang Ibadah

Suatu hari saya melewati perempatan jalan….pas merah lampunya…maka berhentilah kendaraan saya. Seperti biasa…ada anak jalanan yang meminta-minta para pengendara dengan berbagai aksi mereka. Salah satu pemuda….yang menurut saya masih tegap badannya, berambut merah, dengan tangan di “keplok-keplok”an..menghampiri mobil saya. Tanpa basa basi tangannya dijulurkan dan menengadah ke arahku…… Aku tanggapi dengan kata-kata “masih gagah gitu koq mengemis…..khan masih banyak hal lain yang bisa dilakukan…”. Tiba-tiba dia berucap sembari tersenyum “ah ibu….wong dikasih kesempatan ibadah koq tidak mau….”

Aku tertegun sejenak……..tiba-tiba terlintas teori Guns tentang kemiskinan. Dia berpendapat bahwa kemiskinan merupakan struktur yang memilki fungsi tertentu. Dalam teori struktural – fungsional ……tidak mudah mengubah struktur sepanjang belum dikembangkan fungsi baru. Jadi……kemiskinan memang sulit dihilangkan karena fungsi “beribadah” menurut versi orang miskin tetap relevan dikembangkan. Bahkan bagi si kaya, kemiskinan bisa dijadikan “alasan” untuk melakukan apapun, termasuk menyusun program dan proyek baru, mengupayakan tersalurnya dana Bansos, bahkan “mengakali” uang negara dengan alasan untuk si miskin.

Akhirnya……sambil tersenyum…kurogoh sakuku…..kuberikan uang seribu rupiah…..sembari berucap “impas ya…..ini benar-benar dari usahaku…..” sembari dalam hati menggerutu “sialan…..digurui seorang anak jalanan”

(menulis ini sambil bersenandung……..dimana…kemana…)

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki. Tandai permalink.

4 Respon untuk Miskin ?

  1. Achmad Djatmiko berkata:

    Ya..ya..ya… setuju. Mari kita kembangkan konsep Kemiskinan agar lebih mapan keberadaannya dalam wacana dan teori..

    Kemiskinan memang telah menjadi subsistem dalam komunitas kita sehingga dikhawatirkan, kalau “dia” dihilangkan, sesuai pendekatan sistem, maka akan terganggulah sang Sistem sehingga perlu mencari keseimbangan baru menuju terbentuknya sebuah Sistem baru.

    Sayangnya, masih banyak orang yang tidak/belum bercita-cita untuk jadi miskin. olehkarenanya, perlu lebih disosialisasikan pentingnya kemiskinan, supaya memberi kesempatan kepada lebih banyak orang untuk “bersedekah”, dan beribadah…

    Apakah begitu? Wallahu’alam.

    • Kushandayani berkata:

      Alinia pertama dan kedua saya setuju….tapi alinia ketiga saya kurang setuju. Mengapa..? karena hal tersebut justru menciptakan kultur miskin yang berkelanjutan. Kutur yang mendorong orang untuk bangga pada kemiskinannya. Dengan menyandang status miskin, maka mereka bisa berprofesi sebagai “orang miskin” untuk mendesak orang lain “yang tidak miskin” untuk “memberi”. Itu….kronis. Ha ha ha….senang berdiskusi meski di dunia maya. Thank’s bro atas responnya.

  2. Marsa berkata:

    Ceritanya lucu, bu… 😀
    Saya setuju dengan pernyataan ‘kemiskinan memang sulit dihilangkan’ karena menurut saya pribadi memang kemiskinan tidak akan bisa hilang 100%. Kan Tuhan Menciptakan manusia berbeda-beda, Meninggikan derajat yang satu daripada yang lainnya agar bisa saling ‘menggunakan’. Kalaupun kemiskinan itu bisa hilang, paling hanya berubah wujud saja… 🙂
    (tapi bukan berarti cita-cita menjadi miskin dapat dibenarkan..)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *