Kisah Dosen-1

Kisah Dosen (setengah tua) – 1

Oleh: Kushandajani

 

Ada seorang dosen, sudah separuh umur, sudah bekerja lebih dari separuh umurnya, sedang melamun. Dia bernostalgia…..dulu rasa-rasanya begitu berbeda dengan sekarang…hadir di kelas bertemu dengan mahasiswa yang hanya sekelas tiap mata kuliah…. mengajar dengan sepenuh hati tanpa dikejar-kejar waktu harus masuk ke kelas berikutnya dengan perhitungan waktu yang sudah diformula sedemikian rupa. Dulu….dia bisa melakukan pengabdian pada masyarakat bersama-sama dengan jurusan atau program studi lain…hidup bersama dalam komunitas akademis yang terasa tanpa sekat.

            Tiba-tiba dia terjaga….waktu sudah menunjukkan dia harus hadir di kelas. Dengan wajah sumringah dia masuk ke kelas….mendidik (bukan hanya mengajar) yang dia lakukan. Memotivasi mahasiswa….mendorong mereka untuk berani berkata dan bertindak jujur…dan membuka ruang dialog di kelas melalui proses pembelajaran yang interaktif  dan dinamis. Saat dia keluar kelas, si dosen makin sumringah karena mampu memaknai proses pendidikan di kelas dan mampu memacu mahasiswa untuk mau belajar “lebih”…..artinya mendorong mahasiswa untuk tidak mengandalkan pembelajaran di kelas sebagai satu-satunya sumber pembelajaran. Lalu…dia masuk ke kelas berikutnya dengan mata kuliah berbeda….setelah selesai dia sudah harus siap di kelas berikutnya lagi dengan mata kuliah yang sama dengan kelas pertama tadi. Dia lakukan itu berminggu-minggu……Lalu suatu ketika saat dia masuk di kelas terakhir….dia termangu…..lalu membatin “mengapa akhir-akhir ini aku merasakan keanehan…seakan-akan melakukan yang HARUS aku lakukan bukan yang SUKA kulakukan ?”

            Tiba-tiba ada SMS masuk di hand phone nya “segera kirim judul penelitian untuk didanai ….paling lambat dua hari”. Dengan tergopoh-gopoh si dosen mencoba mencari-cari judul yang tepat, agar penelitiannya bisa didanai. Beberapa hari kemudian ada SMS masuk lagi, bunyinya “segera mengumpulkan proposal sesuai dengan judul yang diajukan….paling lambat dua hari”. Tergopoh-gopoh lagi si dosen untuk menyusun proposal penelitiannya. Setelah beberapa bulan menyerahkan proposal….tidak ada berita…apakah proposal penelitiannya dapat didanai atau tidak…. Lalu tiba-tiba menjelang akhir tahun ada sms masuk, bunyinya “laporan penelitian harus diserahkan paling lambat tanggal sekian…..disertai SPJ yang rinci dan dapat dipertanggungjawabkan supaya tidak menjadi temuan”. Maka sibuklah si dosen…….dia tidak bisa fokus pada substansi studi/penelitian yang digarap, tetapi lebih sibuk bagaimana membuat SPJ yang baik agar memenuhi syarat administrasi keuangan.

            Di lain hari hatinya terusik manakala teman-teman sejawatnya mulai kasak kusuk bertanya “apakah ada formula untuk menghitung kelebihan kinerja kita ….lalu apakah kelebihan mengajar akan dibayar sebagai bentuk apresiasi terhadap curahan energi yang kita gunakan, bagaimana cara menghitungnya ?”. Tidak ada satupun yang berani bertanya langsung pada pimpinan lembaga, karena kalau dosen protes…apalagi bertanya tentang uang adalah saru (jawa, yang berarti tabu).  Ingatan si dosen melayang saat menunaikan ibadah haji. Saat itu perusahaan penyelenggara haji sudah ingkar janji sejak awal pemberangkatan, dan berlanjut di pelaksanaan haji bahkan sampai tiba kembali ke tanah air. Setiap ada peserta haji yang protes selalu saja alasan yang sama diberikan “calon haji tidak boleh protes atau marah….nanti kualitas hajinya berkurang….” atau dengan kata-kata yang hampir mirip, “haji itu harus sabar…..mungkin ini bagian dari cobaan dalam berhaji…”…dsb…dsb…. Tiba-tiba ada seorang peserta haji yang berdiri dan berkata langsung pada pimpinan rombongan “masalah ibadah adalah masalah pribadi kami, sejatinya kita tidak pernah tahu apakah ibadah haji kita diterima atau tidak oleh Allah SWT. Sedangkan yang kami protes adalah masalah duniawi…masalah pertanggungjawaban dan profesionalitas penyelenggara haji…..karena kami membayar…tidak gratis. Pisahkan antara tanggungjawab kami pada Allah dan tanggungjawab penyelenggara haji pada kami”. 

            Si dosen meringkuk… di pojok ruang sambil merenung kembali perjalanan “kariernya”….. (kalau itu bisa disebut karier). Dia bertanya pada dirinya…. apakah aku mengalami alienasi ?… inikah mesin pendidikan ?…. dimana semua proses pendidikan takluk pada administrasi keuangan. Masih layakkah aku berbicara di  seminar-seminar tentang bagaimana mengaplikasikan good governance,  akuntabilitas, transparansi, reformasi birokrasi…….sementara di lingkungan pendidikan hal itu menjadi mustahil diwujudkan ?

Adakah kegalauan ini juga menerpa dosen-dosen muda ? ………………sampai ketemu di tulisan berikutnya tentang kisah dosen muda.

           

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki dan tag , , . Tandai permalink.

2 Respon untuk Kisah Dosen-1

  1. Adi syafutra berkata:

    saya juga bingung bu’. terkadang saya juga tidak tahu apa yang diinginkan dosen untuk kami miliki sebagai modal setelah lulus kuliah. apakah itu budi yang luhur? tapi beberapa dosen juga terkadang menunjukkan bahwa mereka tidak memilikinya. apakah itu sikap kritis dan haus untuk mendorong perbaikan? tapi semasa kuliah cukup sering kami dipaksa menurut dan tidak boleh protes. tidak jarang saya berfikir, setelah melewati proses kuliah, ilmu kami bertambah, tapi semangat kami telah layu.

    • Kushandayani berkata:

      Adi….ini bicara manusia dengan status sosial apapun. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa status sosial tertentu menjadi jaminan perilaku penyandangnya juga terpuji. Misal dosen….apakah perilakunya SEMUA dosen pasti baik ? karena baik atau buruk bukan ditentutakn oleh statusnya tapi perilaku MANUSIA nya. Jadi….jadilah dirimu sendiri dengan karakter kuat mampu memutuskan yang terbaik bagi diri…..syukur-syukur bagi orang lain. tetaplah semangat….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *