Kekuasaan

KOMPAS, SELASA, 23 OKTOBER 2007

FORUM
===================================

Bagaimana Mengelola Kekuasaan ?

Oleh: KUSHANDAJANI

Pemilihan gubernur Jawa Tengah akan berlangsung tahun 2008, tepatnya tanggal 22 Juni 2008. Namun saat ini tambur “perang” antar (bakal) calon sudah ditabuh, dibumbui dengan analisis berbagai “pengamat politik” dan tentu saja dibarengi dengan munculnya para pendukung yang mbotohi (Jawa). Semuanya sudah ancang-ancang membuat strategi pemenangan pemilihan, bahkan kampanye pribadi yang dibungkus dengan istilah sosialisasi sudah berjalan sepanjang separuh tahun 2007 ini.
Semua konsentrasi terpusat pada aktivitas yang berkaitan dengan “bagaimana mendapatkan kekuasaan” (how to take the power) ? Lalu apa yang seharusnya dilakukan seorang pemimpin terpilih setelah kekuasaan ada di tangannya ?
Disinilah pentingnya membangun pemahaman tentang “bagaimana mengelola kekuasaan” (how to manage the power) ?
Kesadaran untuk menempatkan pertanyaan how to manage the power dalam urutan pertama para (bakal) calon sangatlah penting. Kesadaran bahwa akibat tidak tahu dan tidak mau tahu terhadap jawaban pertanyaan tersebutlah yang mengakibatkan banyaknya salah urus dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah hingga saat ini. Dalam panggung politik sekarang ini calon pemimpin, yang merupakan personifikasi kekuasaan, pada umumnya lebih banyak mengumbar hasrat berkuasa dibandingkan hasrat mengelola kekuasaan demi tujuan mensejahterakan masyarakat.
Hasrat berkuasa, sebagaimana hasrat-hasrat yang lain selalu tumbuh dan berkembang, semakin lama semakin membesar. Besaran hasrat itulah yang sering menjebak manusia untuk melakukan segala cara untuk meraihnya, bahkan melakukan hal-hal yang sangat tidak masuk akal seperti memalsu ijasah pendidikan misalnya. Hasrat berkuasalah yang mendorong manusia bersikap dan bertindak manipulatif terhadap sesamanya. Banyak contoh memperlihatkan bahwa pada saat para calon pemimpin mencalonkan diri, mereka berbicara seolah-olah sensitif terhadap masalah masyarakat. Tetapi begitu kekuasan di tangan, mereka ”gagap” dalam mengelola kekuasan. Semua orang yang merasa berjasa mengerumuni sipemenang, dan tarik ulur kepentingan dimulai, tetapi kepentingan masyarakat tetaplah tidak terdengar. Padahal janji yang diucapkan seorang “ksatria”, jika mau menyamakan seorang calon pemimpin politik sebagai ksatria sebagaimana dalam alam filsafat pewayangan, memiliki makna sebuah hutang yang harus dibayar.
Disadari atau tidak keinginan untuk berkuasa sebenarnya tumbuh pada setiap manusia, sebagaimana keinginan untuk dihargai dan mendapatkan tanggapan emosional dari manusia lain. Keinginan untuk berkuasa sebenarnya tidaklah jelek. Justru dengan kekuasaan seseorang akan memiliki sumberdaya yang lebih banyak untuk mengubah keadaan, bahkan jika orang tersebut bijak dan cerdas, akan mampu mengubah dan membangun sistem pemerintahan (daerah) yang lebih baik. Dengan kekuasaan di tangan, seseorang akan memiliki otoritas, yang berarti dia berhak mengeluarkan perintah dan membuat peraturan-peraturan serta berhak mengharapkan kepatuhan dari masyarakat yang dipimpinnya. Bahkan dengan kekuasaan, seseorang bisa menggerakkan orang-orang di sekitarnya (termasuk birokrasi) secara optimal untuk mencapai tujuan bersama. Dilihat dari sudut penguasa, legitimacy yang dimiliki seseorang berarti juga mencakup kemampuan untuk membentuk dan mempertahankan kepercayaan bahwa kekuasaan politik yang diembannya adalah paling wajar dan paling tepat untuk masyarakat bersangkutan. Dengan demikian, seseorang dengan kekuasaan di tangan akan memiliki peluang paling besar untuk mengubah nasib masyarakatnya.

Perubahan citra
Masalahnya, sangat sedikit calon pemimpin yang benar-benar menyadari hal tersebut. Meraih kekuasaan hanya dipandang sebagai games, bukan sebagai misi untuk mengubah keadaan agar lebih baik. Dibutuhkan energi, semangat, dan komitmen sangat tinggi untuk mengelola kekuasaan. Kemampuan mengelola kekuasaan bisa terlihat manakala seorang calon pemimpin mampu memandang jauh ke depan, mampu menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan masyarakat sekitarnya, mampu menghasilkan persoalan baru untuk diselesaikan melalui penciptaan skenario yang variatif, dan memiliki kesanggupan mengambil resiko dan dorongan untuk membuat segalanya berhasil. Dari kemampuan-kemampuan tersebutlah, seorang calon pemimpin akan mampu mengelola kelebihan-kelebihan yang dimiliki organisasi pemerintahan (daerah) dan berhasil menciptakan pembaruan yang akan bermuara bagi kesejahteraan masyarakat. Kemampuan mengelola kekuasaan juga akan berdampak pada perubahan citra “kotor” pada politik melalui perubahan sikap dan perilaku para pemimpin politik lokal sehingga menumbuhkan rasa hormat masyarakat.
Titik kritis bagi organisasi dalam tingkatan apapun adalah pada titik rekruitmen politik. Rekruitman politik sangat penting bagi keberlangsungan sistem politik. Hasil rekruitmen akan sangat mewarnai sistem yang ada. Sehingga jika hasil rekruitmen “keliru memilih”, maka dipastikan sistem juga akan “keliru arah”. Setiap pilihan memang selalu membawa resiko tertentu. Semoga masyarakat Jawa Tengah menyadari betapa besar resiko yang harus ditanggung dari sebuah pilihan. Diharapkan pada pemilihan gubernur Jawa Tengah nanti, kepercayaan pada sistem politik yang ada memang sudah tumbuh dan berkembang baik, sehingga pilihan akan didasari dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Bahkan dengan penuh kesadaran masyarakat akan memberikan hak pilihnya sebagaimana pernyataan Daniel Webster (1826) “Tenggelam atau berenang, hidup atau mati, selamat atau hancur, saya berikan tangan saya dan hati saya kepada hak suara ini”.

KUSHANDAJANI
Dosen Jurusan Pemerintahan
Fakultas Ilmu Sosial
Dan Ilmu Politik
Universitas Diponegoro
Semarang

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Karya/Publikasi dan tag , , , , . Tandai permalink.

9 Respon untuk Kekuasaan

  1. Assalamu’alaikum..

    Bu sebelumnya saya minta maaf, saya ingin bertanya, arti dari “legitimacy” itu apa bu?

    • Kushandayani berkata:

      Adinda, legitimacy itu berarti “keabsahan”. Seseorang dianggap “absah” kekuasaannya jika dia diterima, dipercaya, dan dihormati oleh masyarakat pemilihnya. Demikian pula sebaliknya, jika seorang pemimpin sudah tidak dipercaya, tidak dihormati, dia berarti sudah kehilangan legitimacy. Minggu depan kita bahas konsep tsb ya.

  2. yessica berkata:

    selamat pagi bu..

    saya yessica angakatan 2010 kelas a

    1. misalnya seorang pemimpin sudak tidak memiliki legitimacy akan tetapi ia masih mempunyai pendukung yang sangat mendukung dia (anggota partai),apakah dia masih layak menjadi seorang pemimpin?
    2. dalam pesta partai jawa tengah tahun 2008,apa yang dilakukan para pemerintah daerah agar dirinya tetap ada dalam perangkat daerah jawa tengah ?

    • Kushandayani berkata:

      Seorang pemimpin biasanya didukung tidak hanya oleh partai saja, tetapi juga oleh khalayak/masyarakat. Jadi meski tetap didukung oleh partai, namun masyarakat sudah tidak percaya padanya, maka dia tetap tidak legitimate dan tidak layak menjadi seorang pemimpin. Untuk pertanyaan kedua, saya tidak begitu paham maksud pertanyaannya. Terima kasih pertanyaan2nya ya, mudah2an bermanfaat.

  3. yessica berkata:

    terima kasih bu atas jawabannya.

  4. kresna umbu berkata:

    bu…apa segitu “hancur”nya negeri kita..sampai2 kita keluar negeri hanya untuk belajar etika..????

    • Kushandayani berkata:

      Iya…ya…bepergian dengan uang rakyat saja sudah merupakan tindakan tidak beretika. Mereka pikir etika/moral itu berada di luar diri manusia, padahal hal itu melakat di hati kita masing2.

  5. kresna umbu berkata:

    iya bu…kenapa sih pemerintah tidak bisa melihat rakyat???mungkin dengan kutipan ini bisa mencerminkan sikap wakil rakyat kita…
    “wakil direktur pengin jd direktur, wakil presiden pengin jd presiden, wakil ketua pengin jd ketua…
    Nah, kalo wakil rakyat pengin jadii…
    Ahh..mana mau mereka?
    makasi bu..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.