Ingatan Itu….

INGATAN ITU SELALU HADIR KEMBALI TIAP TANGGAL 30 SEPTEMBER

(Tulisan ini pertama kali dimuat tgl 12 Oktober 2010, saya muat kembali sebagai pengingat……..)

Oleh: Kushandajani

Sejak saya di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, tiap tanggal 30 September selalu diingatkan pada sebuah peristiwa nasional yang sering dikenal dengan peristiwa G30S. Tiap tanggal tersebut televisi selalu menyuguhkan film tentang peristiwa tersebut, terus menerus dan berulang-ulang tiap tahun.
Buku-buku sejarah menceritakan kisah yang sama. Anak-anak yang tidak langsung mengalami kejadian tersebutpun terdorong untuk menerima dan meyakini “kebenaran” yang diutarakan dalam buku sejarah. Maka terbentuklah “ingatan kolektif” pada bangsa kita, ingatan yang sudah terdesain sedemikian rupa sehingga menggagap hanya ada satu kebenaran mutlak tentang peristiwa tersebut.
Saat ini, sembari ingatan melayang kepada “ingatan kolektif” tersebut, terselip juga ingatan pada masa kecil di sebuah kota di wilayah Purbalingga. Saya dan ketiga saudara saya ikut orang tua, bertugas sebagai TNI-AD di wilayah tersebut. Saya masih menapak usia tujuh tahun, dan berada di sana sampai usia menjelang sembilan tahun. Di dalam rumah tinggal dua orang pembantu, lelaki dan perempuan. Saat itu saya tidak mengenal “siapa” mereka.
Masih terpatri dalam ingatan, bagaimana pembantu lelaki itu selalu mengajari membaca tiap sore dan malam hari. Di waktu senggang dia akan membaca buku-buku karangan SH Mintardja, dan menceritakan kembali isi buku tersebut kepada kami, disertai ekspresi dan cara bertutur yang memikat. Di kemudian hari saya menyadari betapa terobsesinya saya dengan para tokoh di dalam buku tersebut, sampai-sampai memberi nama anak dengan tokoh yang ada di buku tersebut.
Di waktu hujan sangat deras, sementara orang tua tidak di rumah, pembantu perempuan memeluk saya dengan hangat. Bahkan suatu hari diajaknya saya ke sel tahanan, katanya untuk menjenguk temannya. Saya masih ingat bagaimana bentuk sel tahanan itu, bagaimana para tahanan perempuan itu tidur di atas tikar tipis. Saya mendapati perempuan-perempuan berkebaya, dengan wajah-wajah tanpa senyum, bergumam sendu tanpa canda.
Setelah saya cukup dewasa, barulah saya menyadari sepenuhnya bahwa para pembantu saya selama ini adalah para eks tapol (tahanan politik) yang ditahan karena dianggap memiliki dosa politik. Dosa yang tidak mereka pahami kapan membuatnya. Saya pernah bertanya pada ayah saya “mengapa bapak membiarkan mereka menjadi bagian dari keluarga kita ?” Ayah saya menjawab “mereka juga manusia, yang memiliki hati….bahkan memiliki keinginan kuat untuk mencurahkan kasih sayang pada orang lain..dengan kesetiaan yang tiada terkira..” Hal yang mungkin sangat sulit diperoleh pada dunia yang amat materialistik ini.
Maka saya membaca buku sejarah kembali, namun dengan perspektif berbeda. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu sering hinggap di kepala justru mendapatkan jawabannya, tidak di buku sejarah tetapi dalam pergumulan pikiran yang disokong oleh realitas hidup.
Peristiwa di seputar 30 September 1965 mengingatkan kita pada tulisan Peter L. Berger tentang Pyramids of Sacrifice (1974). Dia menyatakan bahwa “sejarah adalah ibarat aliran darah yang mengalir dari belakang kita dan menghanyutkan kita…. Apabila manusia berhasil mengingat penderitaan yang dialami dunia dan sesamanya melalui hati nuraninya, ia akan dapat melihat sosok tubuh Dewi Pengasihan yang berdiri terpencil, tertutup kemunafikan dan kelancungan manusia…”
Dalam piramida pengorbanan manusia tergambar jelas bagaimana struktur terbawah dalam piramida selalu menjadi korban dari pergumulan kekuasaan di tingkat elit. Tidak selalu pergulatan elit diakhiri dengan rekonsiliasi, tetapi justru kerap diakhiri dengan konflik fisik. Negara-negara seperti Libanon, Irak, Afganistan, ataupun Myanmar adalah beberapa contoh yang bisa dilihat saat ini, bagaimana pergulatan elit untuk mempertahankan ataupun mendapatkan kekuasaan selalui disertai dengan kekerasan dan tidak sedikit darah  tertumpah. Konflik-konflik di tanah air juga menggambarkan suasana yang sama, yang juga merengut jiwa manusia. Siapa yang menjadi korban ? Tetaplah struktur atau kelas bawah,  kelas yang tidak memiliki pilihan lain karena posisinya yang powerless.
Peristiwa 30 September 1965 telah berlalu sekitar 47 tahun yang lalu. Masih terselipkah rasa benci dan saling menghakimi ? Ataukah waktu mampu mengikis rasa sakit ?  Sampai saat ini “pembantu” itu masih hidup, dan menjadi bagian dari keluarga besar kami. Kesetiaan dan pengabdiannya luar biasa. Dia mampu bangkit dan membangun kembali hidupnya. Dia merasa bermakna kembali bagi orang lain, dia mendapatkan kembali rasa hormat orang lain, dan tidak ada yang “menyindir” masa lalunya sebagai dosa.
Maka sembari menatap wajah keriputnya, saya berdoa semoga tragedi itu tak kan pernah berulang kembali dengan berbagai bentuknya. Biarlah yang tua mengobati luka-luka yang ada sementara yang muda menatap masa depan dengan lebih ceria. Maka jika setiap tanggal 30 September ingatan saya tentang kenangan itu hadir kembali, bukan ditujukan untuk meratapi apa yang telah terjadi, tetapi lebih untuk mensyukuri karena “ingatan kolektif” tentang tragedi 30 September 1965 itu makin menipis, dan menipis pula rasa benci dan menghakimi.
Selamat berjuang Indonesiaku…. selamat berjuang kaum mudaku untuk meraih mimpi yang selalu tertunda, masyarakat adil dan makmur.

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Karya/Publikasi dan tag , , . Tandai permalink.

11 Respon untuk Ingatan Itu….

  1. ode berkata:

    ya itulah bu…..pemutarbalikkan sejarah demi sebuah kepentingan semu. .saya tidak tahu apakah benar yang ada di p.buru itu semuanya pki atau hanya korban “asal tunjuk.” sepertinya banyak yang asal tunjuk, soalnya pernah saya coba tanyakan ke mereka, mereka tidak tahu apa itu komunis, dan hanya tahu mereka di eksekusi ke pulau buru. saya senang membaca tulisan ibu…..saya mengerti bahwa setiap manusia wajib dan punya hak untuk “diorangkan” siapapun dia. semoga bangsa ini lebih bijak menyikapi berbagai perbedaan warna , ideologis..dan tidak semuanya harus dengan jalan kekerasan untk menyelesaikan. kapan2 klo ibu nulis tolong dishare ke aq….saya sangat senang ada dosen seperti ibu…bersahaja..dan keibuan banget…makasih bu ….saya menanti ibu di mata kuliah pedesaan…sudah lama gk diajar sama ibu.wslm

  2. Hepy riska ilham berkata:

    Memang benar adanya kalau anak2 skrg (trmasvk saya) tdk tahu ap yg trjadi d masa lalu dan hanya d beri cerita yg telah d bukukan tdk tahu realita yg sbnarx terjdi,serta yg mana yg salah dan mana yg benar…
    Tpi yg membuat saya jadi merinding dan hati bergetar ketika ibu bercerita kalau punya temen yg masa mudax jauh/lama tdk brsama keluargax serta menyadari pentingx keluarga stlh dwasa..
    Saya jd ingat keluarg saya d rumah yg tlh lama saya tingglkan kurg lebh 4 tahun..
    Mungkn menurt ibu/siapa sja itu belum lma. .
    Tpi cerita ibu d kelaz membuat saya ingin kembali mengingat masa2 dgn keluarga.
    Bgai manapun, peristwa masa kecil adlh memori yg tdk pernah bisa d hilangkn dgn mudah.. Dengan cra ibu mengajar yg memakai perasaan keibu2an, rasa ingin kembali bersama keluarga menjadi begitu besar..
    Mungkn saya jg bru seumur jagung bisa bertmu dgm ibu,tpi saya bisa rasakn kasih sayang anda kpada kami sungguh luar biasa besarx..
    Njenengan tidak membeda2kan kami,.
    Trima kasih bu.

    • Kushandayani berkata:

      Alhamdulillah Hepy….kamu bisa tersentuh hatinya dengan cerita itu. Saya berharap kamu bisa melangkah ke depan dengan lebih semangat, terutama jika mendapat dukungan yang besar dari keluarga. Sesekali kita memang perlu menengok ke belakang, agar tidak tersesat ke depan. Selamat berjuang meniti masa depan ya.

  3. arief tri atmoko berkata:

    sebenarnya yg benar tu pihak mana ???

    • Kushandayani berkata:

      Pelajari sejarah…..tidak hanya dari satu pihak saja tapi pelajari juga dari pihak yang berbeda. Keraguan adalah awal dari keyakinan….maka proses menuju keyakinan adalah mengalami keraguan lebih dahulu. tks responnya Arief

  4. Pratomo Ari waskito berkata:

    Assalam ibu… 🙂
    Bu, saya mau tanya…
    Saya beberapa hari lalu selalu menyaksikan berita tentang Mesir. Dari melihat berita tersebut, saya menganalisa penyebab demonstrasi dan menyimpulkan kalau pemerintah Mesir dianggap tidak absah oleh masyarakatnya. Menurut ibu,,,hasil analisa saya bagaimana?

    • Kushandayani berkata:

      Absah tidaknya kekuasaan memang bertumpu pada “kepercayaan” rakyat. Jika kepercayaan pada elit politik menurun tajam, bisa dipastikan keabsahan pemimpin juga menurun. Jadi apa yang terjadi di Mesir merupakan contohnya “terkikisnya” keabsahan pemimpin karena kepercayaan yg terkikis juga. Mengapa kepercayaan masyarakat menurun bahkan nyaris terkikis ? Saya yakin anda bisa menjawabnya. Tks responnya.

  5. Fawaz Syaefullah berkata:

    di daerah saya, dulu sekali (ketika saya belum lahir) ada perkampungan PKI, dan orang-orang selalu sinis kalau mereka adalah keturunan atheis dsb.
    bahkan, waktu kecil sinisme atas “dosa politik” itu masih saya dengar. Tetapi, sekarang2 alahmdulillah sudah memudar. tidak ada orang yang membicarkannya lagi…

    (fawaz, pemerintahan 2012)

  6. Jacobus William berkata:

    30 September… hari berkabung bagi bangsa Indonesia…
    lebih dari 1 juta orang mati sia-sia…
    biarkan ini menjadi pelajaran bagi generasi saat ini…
    diingat sebagai pelajaran dan kesalahan masa lalu. bukan untuk dilupakan seiring dengan perkembangan zaman.
    besok adalah misteri.
    kemarin adalah sejarah.
    hari ini adalah anugerah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *