Harapan dan Kematian

Harapan dan Kematian : In Memoriam untuk Cak Wan

Juli 1981: Semua mahasiswa baru FISIP UNDIP dikumpulkan di sebelah gedung B. 101. Wajah-wajah penuh semangat (ingin tahu seperti apa jadi mahasiswa) menghiasi suasana saat itu. Namun ada juga rasa ketakutan yang terselip, mengingat kakak-kakak kelas hampir semuanya “bersandiwara” untuk galak dan berwajah sangar. Di hari itulah aku mengenal lebih banyak orang dengan latar belakang dan kultur yang berbeda. Di hari itu pula aku bertemu dengan teman-teman baru…….Cak Wan diantaranya. Laki-laki berbadan sedikit kerempeng, tinggi, dan berkulit gelap. Namun di antara semua hal yang terlihat, aku melihat pancaran mata yang menantang….ingin menaklukkan dunia….ingin meraih impian, meski jujur saja sampai sekarang aku masih bertanya sebenarnya apa impiannya.

18 September 1985: Dengan menggunakan kain kebaya, aku duduk gelisah menunggu dosen penguji skripsi. Waktu itu, untuk lulus ujian skripsi mahasiswi harus lulus ujian berkebaya dulu….artinya jika saat memakai kain kebaya marah melulu, maka konsentrasi bisa buyar saat menjawab pertanyaan penguji.  Saat itu tingal satu penguji yang belum hadir..justru penguji utama sekaligus pembimbing utama skripsi. Sementara teman-teman seangkatan sudah membuat rencana, malam hari mereka akan hadir di rumah kakakku untuk merayakan kelulusanku. Dalam hati aku berpikir “kejam amat….tidak bisakah kalian lihat betapa gelisahnya aku, karena belum tahu apakah hari ini aku bisa lulus sarjana atau tidak”. Tanpa memedulikan kasak-kusuk mereka, mataku nanap memandang jalan masuk ke ruang ujian. Begitu Drs. Soemandar Soerjosoedarmo masuk, teman-teman langsung berteriak “asyik……kita jadi makan-makan nanti malam”, tanpa peduli dengan wajahku yang agak pucat karena tegang memikirkan ujian. Tetapi semua berbuah manis. Malam harinya kami bertemu dan makan bersama di rumah kakak, berkicau, dan bercanda, sembari tersadar bahwa sudah empat tahun kami bergaul dan saling menyapa. Saat itu aku menyadari bahwa sudah beberapa lama aku tidak bertemu temanku….Cak Wan.

Agustus 1986: Aku masuk ke kelas untuk memberikan kuliah. Hah ! Ini benar-benar situasi yang terbalik. Aku jadi dosen oy… Saat itu mahasiswa yang kuhadapi adalah ….teman-temanku sendiri…..diantaranya Cak Wan. Dia tersenyum-senyum….dengan sedikit malu memandangku. Aku tertegun…..sambil dalam hati berteriak ”sialan…” merasa sedang dipelonco lagi seperti saat mahasiswa baru. Minggu berikutnya dia tidak hadir, tidak mau kuliah jika dosennya aku. Bah ! Sungguh keras kepala benar arek Malang itu ! Benar saja….dia lulus terakhir diantara teman-teman. Aku hanya mendengar pada tahun 1988 dia menikah. Aku ikut bahagia untuknya, karena dia berani menentukan pilihan hidup.

Awal tahun 2009 : Kami berenam bergegas menyusuri jalan menuju ke rumah Cak Wan di Banyubiru. Ada khabar dia menderita sakit cukup parah, stroke dan jantung. Saat kutatap wajahnya….kubandingkan dengan 28 tahun yang lalu….gurat-gurat penderitaan hidup tercetak kuat pada wajahnya….namun cahaya mata itu masih menatap keras, meski di sudut-sudutnya terlihat mulai layu. Meski begitu, manakala bercerita tentang istri dan anak-anaknya terlihat cahaya keluar dari matanya……dia bercerita tentang buah-buah hatinya ……..kebanggaan hatinya.

2 Agustus 2011: Ada  berita lelayu….”Cak Wan meninggal dunia dengan tenang”. Aku tertegun, sembari berucap innalilahi wa ina ilaihi rojiun…. Kenangan berserabut masuk dalam ingatanku. Lelaki tangguh itu akhirnya menyerah juga pada takdir yang tak dapat ditolak. Dia telah berjuang sangat tangguh untuk membuktikan bahwa dia adalah suami yang baik bagi istrinya, ayah yang baik bagi anak-anaknya, sahabat yang baik bagi teman-temannya, dan warga yang baik bagi para tetangganya. Saat kupeluk istrinya, kubisikkan kata ”kamu wanita terhebat, karena mendampingi Cak Wan dengan kesabaran dan kecintaan tak terbatas”. Selamat jalan kawan….berjalanlah menghadap Sang Khalik dengan penuh keimanan dan keislaman. Semoga Allah SWT menempatkan kau disisi terbaikNYA. Amin.

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.