Citra PNS Muda

Muda, Potensial, dan Korup
Demikian judul berita di Kompas, 8 Desember 2011 yang mencerminkan kondisi PNS muda kita. Dua kata awal membanggakan, lalu ditutup dengan bom….Korup ! Biasanya istilah bom melekat dengan istilah terorisme. Namun di tulisan ini saya memaksudkannya dengan korupsi. Jangan-jangan memang bom itu tepat dilekatkan pada keduanya. Jika bom diledakkan oleh teroris, beberapa orang akan tewas ataupun menderita luka-luka, dari ringan sampai parah sesuai dengan posisi dekat jauhnya dengan “bomber”. Dalam fenomena korupsi, justru dampaknya lebih “maut”.  Orang lain mungkin tidak menderita fisik hebat kena pecahan bom ataupun paku-paku yang sengaja ditanam dalam bom, namun dalam jangka panjang justru bom korupsi mampu  “mematikan” jiwa-jiwa baik dalam kehidupan berbangsa.
Dari saya kecil sampai sekarang, tidak pernah terjadi perubahan cara pandang masyarakat kita, bahwa jadi PNS itu adalah idaman tiap lulusan perguruan tinggi. Bahkan para calon mertua selalu memilih calon menantu PNS, dengan pertimbangan “rasane ayem” (audhubillah mindalik). Hidup di zone aman memang lebih “aman” dibanding bergelut dengan idealisme untuk meraih impian.
Jadi….di bagian mana yang salah ? Karena saya seorang pendidik, maka saya “menyalahkan diri sendiri” ……bahwa ada yang salah dalam proses pendidikan kita, baik di keluarga maupun di sekolah. Pergaulan untuk sementara tidak dihitung.
Saya penasaran…ingin tahu apa yang terjadi di setiap rumah tangga kita. Mungkin banyak para ibu yang bangga melihat  anaknya berbohong, atau banyak ayah yang mendorong anaknya berbuat curang, yang penting lulus ujian. Atau seorang anak yang dengan pongahnya menceritakan pada orang tuanya bahwa dia baru saja memalak temannya ? Dimulai dari hal-hal kecil, lalu orang tua menjadi terbiasa “memaafkan” sikap-sikap menyimpang tersebut. Sebagai orang tua seringkali kita juga sering “dibutakan” dengan perilaku anak , menjadikan “rasa cinta” sebagai pembenar bagi sikap-sikap kita yang “pemaaf” tersebut.
Lalu…. berlanjut di sekolah, termasuk perguruan tinggi. Kuasa guru atau dosen terhadap anak didik/mahasiswa sangatlah besar. Itu sebabnya guru sering diidentikkan dengan singkatan “digugu lan ditiru”. Namun kuasa guru terhadap anak didik  tidak dibangun atas dasar “hati pendidikan” . kalau soal ini…..saya sudah sering nulis…jadi saya hentikan saja.
Sebagai seorang ibu, tentu saja saya berharap anak saya bisa mengembangkan diri secara optimal, tidak ragu melangkah maju, dan siap bertarung di zone yang “tidak aman”, mampu berjuang dan memenangkan peperangan dalam proses hidupnya secara jujur. Menjadi anak muda yang potensial, dan TIDAK KORUP. Amin.

Ungaran, 10 Desember 2011

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki dan tag , , , , , . Tandai permalink.

4 Respon untuk Citra PNS Muda

  1. hafidh fairuz berkata:

    Perlu dibenahi sistem pengawasan, tidak hanya mengandalkan atasan langsung yang kadangkala terpengaruh kedekatan personal, yg lebih penting lagi adl pengawasan sistem.. last but not last, punishment and reward.

    • Kushandayani berkata:

      Lembaga pengawasan sudah sangat banyak……sekali, tapi tetap tidak efektif. Yang kurang itu niat baik. MEncari orang pintar saat ini sangatlah mudah, tapi yang paling sulit adalah mendapatkan orang baik !

      • Jacobus William berkata:

        setuju….
        lembaga hanyalah sebuah formalitas belaka.
        yang sama sekali tidak dapat menunjukkan perannya dan fungsinya.

  2. Apabila membaca tulisan berkenaan dengan “Citra PNS Muda”, dalam pandangan saya, fenomena PNS muda yang melakukan tindakan pencucian uang negara terjadi karena pribadi pegawai yang koruptif dan adanya celah dalam peraturan yang berlaku. Selain itu, hal tersebut juga terjadi karena upaya mencontoh tindakan yang dilakukan para seniornya.

    Tak dapat dipungkiri, ada juga generasi muda yang masih mencontoh senior-seniornya karena value sistem-nya belum terbangun. Apabila kita lihat, banyak yang begitu kreatifnya dalam rangka mencari celah peraturan perundangan. Peraturan perundangan bisa diterobos dengan “kreativitas”. Bolehjadi, untuk menanggulangi persoalan PNS muda yang korup itu, maka pembenahan paling utama adalah pada pribadi pegawai tersebut. Setidaknya, hal itu efektif untuk sebagai upaya pencegahan. Makanya yang perlu dibangun adalah dari orangnya sendiri yang sudah antikorupsi.

    Seperti diberitakan berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik baru-baru ini, banyak PNS muda berusia 28 tahun yang terindikasi korupsi dengan melakukan pencucian uang. Modusnya unik, bersama sang isteri anak muda ini secara aktif mencoba menyamarkan dan menyembunyikan harta yang didapat secara haram.
    Ada sekitar 50% PNS muda kaya yang terindikasi korupsi. Perilaku koruptif para pejabat muda usia ini berdasarkan hasil analisis PPATK yang sebetulnya sudah lama dilakukan. Adapun indikator kaya menurut Agus adalah bergaya hidup mewah, mempunyai barang mewah, kemudian dari jumlah rekening yang tidak wajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *