Catatan Seorang Ibu

Seorang Demonstran, Seorang Polisi, dan Seorang Ibu
Oleh: Kushandajani

Seorang perempuan cantik tersenyum memandang dua buah hatinya, dua bayi kembar laki-laki. Dibisikkannya kata-kata indah penuh harapan padu keduanya, “jadilah laki-laki yang memiliki keteguhan hati, dan beranilah membela kebenaran”.

Sembilan belas tahun kemudian, tepatnya tanggal 31 Maret 2012, telpon di rumahnya berdering mengabarkan seorang putranya, Amin,  ada di rumah sakit, terluka kena pentungan polisi bertubi-tubi. Oh tidak…! Hatinya menjerit….itu bukan anakku, pasti orang lain. Pagi tadi putranya hanya berpamitan biasa untuk kuliah. Sesampainya di rumah sakit, ternyata benar putranya dalam keadaan terluka. Si ibu memeluk sambil menangis, dan bertanya, “apa yang terjadi?”. Si anak menjawab, “aku ikut demonstrasi bu, menuntut pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM. Bukankah ibu selalu mengajarkan padaku untuk selalu membela rakyat kecil ?”. Ibunya mengangguk dan berkata, “tapi hati-hatilah nak, ibu tidak ingin kehilangan kamu”.

Saat mereka sedang berbicara itulah, tiba-tiba hp si ibu berdering…..”maaf bu,mohon datang di rumah sakit, putra ibu, Aman,  terluka parah terkena bom molotov saat menghadapi demonstran di depan gedung DPR-RI”. Si ibu terhenyak ! Aduh Gusti…..itu anakku si kembar. Dia berlari….karena ternyata Aman ada di IGD, di rumah sakit yang sama. Si ibu menangis lagi….sambil tergugu bertanya pada anaknya, kenapa ? Si anak menjawab, “aku melakukan tugas negara bu, termasuk melindungi gedung rakyat, karena menjadi polisi adalah panggilan jiwaku”.

Si ibu tidak kuat menghadapi semua itu, lalu berlari keluar dan berteriak, “ini tidak adil….kenapa negara menghancurkan keluargaku….membiarkan dua bersaudara berperang untuk membela etiknya masing-masing….sementara orang-orang yang dibela  masih duduk santai membicarakan nasib negara dengan saling tersenyum dan bertepuk tangan”.

(Catatan penulis: ini hanya hasil imaji semata, meski kemungkinan besar terjadi dalam realitas)

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki. Tandai permalink.

2 Respon untuk Catatan Seorang Ibu

  1. Singkat dan cukup mengaduk perasaan, bu. Namun di belahan realita yang lain, saya juga menemui beberapa contoh persahabatan mahasiswa dan polisi, bahkan terkadang aksi antar mahasiswa-polisi tersebut sudah terencanakan dan–lewat pandangan saya yang kala itu ikut berdemo–mereka saling senyum tau-sama-tau saat melakukan aksi itu.

    Tentu saja, hanya sebagian kecil saja 🙂

    • Kushandayani berkata:

      Benar juga mas Arya……. kayaknya apa saja bisa didesain sedemikian rupa seolah-olah nyata dan tulus. Mudah-mudahan anda masih memiliki nurani dan mendapat sahabat sejati. Trm kasih responnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *