Anak dan Sekolah

Anak dan Sekolah

Aku tercenung…ingat kata-kata Bapak dan Ibuku, “hiduplah yang sederhana, meski sebenarnya kamu mempunyai banyak…dan lebih banyak prihatin untuk keturunanmu….aja ngentek-ngentekna kemukten, ben anak-anakmu luwih mukti“. Waktu aku masih anak-anak jelas aku tidak begitu memahami makna kata-kata tersebut. Namun saat dewasa, lalu mengarungi kehidupan rumah tangga, dan lahirlah anak-anak dari rahimku, semakin paham aku dengan filsafah hidup tersebut.

Saat lahir anak-anak, maka lahirlah harapan-harapan baru dalam hidup. Harapan-harapan tersebut biasanya muncul dan terefleksi pada nama anak yang kita berikan. Siapapun nama anak kita, pastilah tersembunyi harapan masa depan baginya. Maka tidaklah heran jika seorang ibu yang mengalami pahit getir kehidupan tetaplah kuat menanggung segalanya untuk memperjuangkan kehidupan lanjut anak-anaknya. Dan bukanlah kata-kata klise jika kita mendengar gumaman seorang ibu, “satu-satunya harapan hidupku adalah anak-anakku….maka ukuran keberhasilan seorang ibu bagiku adalah manakala berhasil menyiapkan anak-anak agar lebih siap mengarungi hidupnya”.

Dulu waktu aku sekolah, tasku hanya berisi beberapa buku tipis dan alat tulis secukupnya, bahkan waktu itu sering menulis di atas asbak (papan tulis kecil, berfungsi sebagai buku tulis). Setelah pulang sekolah siang hari, aku masih sempat nongkrong di tempat pensewaan buku….membaca komik silat ataupun baca buku-buku karangan Kho Ping Hoo. Sekarang …..saat kulihat anak-anakku berangkat sekolah, terlihat berat nian tas punggungnya. Semua buku dibawa serta….setiap mata pelajaran memiliki buku wajib lebih dari satu. Saat kuminta meninggalkan salah satu buku…anakku mengatakan “biar dibawa semuanya Mah, karena sering tidak bisa diperkirakan bu/pak guru akan menggunakan buku yang mana hari ini”. Pulang sekolah sering sore hari, bahkan menjelang Maghrib baru kembali. Ya Allah…..betapa lebih tajamnya hidup sekarang dibanding masaku dulu. Di satu sisi mereka harus berjuang di dalam sekolah, di sisi lain juga berjuang menghadapi godaan materi yang begitu memukau di luar sekolah.

Namun bagaimanapun toh kusadari bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang yang paling baik untuk masa depan anak-anak. Semoga saja pemerintah selalu terus berupaya agar semua anak-anak Indonesia mendapat kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak lainnya. Jangan sampai ada kata-kata yang terucap dari seorang anak “aku lebih memilih untuk lahir bodoh tapi kaya, dibanding lahir cerdas tapi miskin”.

Maka…setiap kali anak-anak berangkat sekolah kuucapkan “semangat ya nak !” Itulah senjata paling ampuh untuk menghadapi hidup ke depan, karena “kebangkrutan paling menyedihkan adalah manakala kita kehilangan semangt”. Jelas aku tidak ingin bangkrut, dan tidak ingin mendorong anakku bangkrut pula ! Jadi…..semangatlah anak-anak Indonesiaku tuk…. meraih masa depanmu ! Semangat !

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki. Tandai permalink.

2 Respon untuk Anak dan Sekolah

  1. bagus bu tulisannya, mengingatkan saya betapa keras perjuangan orang tua. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.