Aku memang wong ndeso

“Wong Ndeso” dalam Iklan Bisnis

Tukul berteriak keras pada para tukang dan buruh bangunan yang sedang merenovasi rumahnya “dasar ndeso !”, karena menganggap para pekerja tersebut gagap teknologi, tidak bisa menggunakan internet. Yang diteriaki tidak tersinggung….karena memang dibayar untuk itu. Yang tersinggung justru saya. Saya orang ndeso, dan bangga dengan kendesoan saya. Saya tumbuh berkembang di desa dengan segala entitasnya.

Dalam iklan tersebut Tukul (dan pembuat iklan) mungkin tidak sadar telah melakukan stigmatisasi terhadap “wong ndeso”, dimana orang desa itu identik dengan kebodohan, kemiskinan, wajah jelek, dan gaptek (gagap teknologi). Sementara orang-orang muda perkotaan digambarkan sangat enak: tidak bekerja keras, memiliki orang tua kaya, berbaju necis, menggunakan mobil mewah, dan berbicara “lu..gue”. Pandangan yang demikian jelas mendorong orang desa untuk tidak bangga dengan kendesoan mereka, sehingga mereka bisa bersikap rendah diri alias minder manakala berhadapan dengan “orang kota”.

Saya sedang tidak melakukan dikhotomi desa-kota, namun kata-kata dalam iklan justru memancing kesadaran kita bersama, bahwa ada cara pandang yang “negatif” terhadap desa. Senyatanya desa justru pendukung kehidupan ekonomi, budaya, sosial penduduk kota. Desa adalah penyangga kota. Demikian pula sebaiknya, kota adalah pasar  bagi desa. Apakah ada teriakan yang sama manakala orang kota tidak bisa memegang cangkul, menyiangi tanaman, memberi makan bebek, sampai memanen padi….dengan ucapan “dasar kota !”

Jadi….lebih baik diganti iklan tersebut…..agar iklan lebih mendorong dan solutif terhadap problem-problem desa, seperti orang desa yang tidak gaptek, cerdas, dan kratif !

Salam dari “wong ndeso”, mudah-mudahan orang-orang kota lebih cerdas dalam bertindak !

Kushandajani
Desa Lerep, Kecamatan Ungaran

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki. Tandai permalink.

7 Respon untuk Aku memang wong ndeso

  1. wahjoe berkata:

    saya juga dari kampung bu, kampung bangat malaan, tapi ya ngomongnya “lu gua”, bukan “lu gue”. salam juga dari betawi pinggiran, mahasiswa ibu. hehehe

  2. Emil berkata:

    setuju 🙂

    saya bangga jadi orang ndeso bu 🙂

  3. hafidh fairuz berkata:

    Tampang ndeso rejeki kota.. (tagline-nya tukul)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.