Air Mata Guru

KOMPAS, SELASA, 15 MEI 2007

FORUM
===================================

Air Mata Guru

Oleh: KUSHANDAJANI

Tragedi di dunia pendidikan muncul bertubi-tubi dan menyadarkan kita betapa kronisnya penyakit di dalam sistem pendidikan kita. Dari kasus kekerasan di IPDN, sex bebas, penggunan narkoba, sampai dengan kecurangan yang dilakukan oleh para pendidik demi memudahkan anak-anak didiknya lulus ujian. Apa yang dilakukan oleh para guru yang masih memegang hati nurani dengan menolak kecurangan ujian nasional, sungguh menggugah hati. (Kompas, 28 April 2007)  Air mata para guru yang masih memiliki keteguhan dan kejujuran hati  semestinya tumpah saat ini mengingat begitu terkikisnya nilai-nilai kejujuran yang seharusnya ditumbuhkembangkan di dalam sanubari para anak didik.
Air mata bisa bermakna ganda, kesedihan dan kebahagiaan. Orang yang sedih mendengar ataupun melihat peristiwa-peristiwa memilukan akan menitikkan air mata. Akan tetapi sering pula terjadi, orang menitikkan air mata karena bahagia. Dalam konteks kelompok Air Mata Guru, kedua makna air mata bisa terjadi. Mereka menangis sedih karena ketidakjujuran merajalela di dunia pendidikan, tempat yang seharusnya menjadi benteng utama penanaman kejujuran. Mereka juga layak menangis bahagia, karena keteguhan hati untuk kejujuran masih dimiliki.
Diyakini bahwa dilema moral sering menghinggapi mereka, sebelum sampai pada putusan untuk memihak nurani. Dalam dilema moral selalu ada dua atau bahkan lebih kewajiban moral, hak, ideal atau penerapan suatu asas yang bertentangan dalam situasi yang memungkinkan mereka untuk memenuhi atau menunaikan semua.
Kewajiban moral pada para orang tua peserta didik yang menginginkan  anak-anaknya lolos dari “lobang jarum” yang disebutnya Ujian Nasional (UN); kewajiban  moral pada para sahabat dan teman-teman seprofesi yang dibungkus dengan istilah  loyalitas; kewajiban moral pada diri sendiri; dan akhirnya kewajiban moral pada Sang Khalik.
Baik buruk suatu tindakan memang sulit diukur dari kacamata objektivitas, karena pada dasarnya setiap manusia adalah subjek yang memiliki latar belakang , budaya , nilai-nilai dan bahkan perspektif yang berbeda manakala dihadapmukakan dengan realitas sosial tertentu. Pro kontra terhadap apa yang dilakukan para kepala sekolah dan guru untuk memberikan “bocoran” jawaban sola-soal UN pasti tetap berlangsung, karena  masing-masing berdiri pada etik tertentu.
Akan tetapi cobalah melihat realitas pada dunia pendidikan kita secara lebih jernih. Diakui atau tidak, telah terjadi pergeseran pandangan yang sangat menyesakkan hati, dimana dunia pendidikan semata-mata dipandang sebagai “industri” dan anak didik dipandang hanya sebagai “barang produksi”, dan proses belajar mengajar dilihat sebagai “proses produksi” di dalam perusahaan. Anak didik dianggap sebagai “barang” yang bisa dicetak sesuai dengan kurikulum pendidikan. Seakan-akan semua tindakan bisa diprediksi dan semua faktor bisa diestimasi hasilnya.
Dalam industri, merk dagang menjadi sangat penting, karena dengan merk dagang yang makin terkenal akan makin banyak yang memimpikan untuk memilikinya, bahkan dengan harga seberapapun, demi sebuah gengsi.
Status sekolah yang berhasil meluluskan anak didiknya, jika perlu 100 %, jelas menjadi merk dagang yang prestisius, karena bisa menciptakan pasar yang menguntungkan. Para orang tua berduit akan berlomba-lomba menyekolahkan anaknya pada sekolah-sekolah favorit, bukan dengan tujuan agar anaknya bisa berkembang secara optimal, tetapi  lebih untuk mendongkrak prestise orang tua.

Belum jaminan
Padahal belum menjadi jaminan bahwa sekolah mahal selalu menawarkan sistem pendidikan yang membebaskan, dimana daya kreatifitas tertampung secara optimal, bukan sebaliknya sebagai tempat yang membelenggu. Belenggu itu tidak selalu diartikan sebagai belenggu fisik. Yang lebih menakutkan adalah belenggu pikiran, yang membuat anak didik tidak mampu mengoptimalkan daya nalarnya, yang seharusnya menjadi kelebihan manusia dibandingkan mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainnya.
Di sisi yang lain nilai-nilai seperti kebajikan (virtue) maupun keterpercayaan (trustworthines) yang merupakan jembatan yang menghubungkan antara kehidupan pribadi dan kehidupan profesional guru (termasuk dosen) semakin terkikis . Guru merupakan tugas profesional yang harus dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab, karena di dalam tanggungjawab berisi  integritas/komitmen  moral untuk jujur dlm tindakan, jujur dalam perkataan, dan kompeten.
Sebagaimana pada saat orang tua mencoba menegakkan kejujuran di dalam rumah tangga, maka yang penting dilakukan orang tua adalah dengan bersikap dan bertindak jujur  di depan anak-anaknya. Demikian pula yang terjadi di sekolah. Guru akan kehilangan legitimasi moralnya jika anak didik mengetahui, mendengar apalagi melihat sikap dan perilaku gurunya yang bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran yang selama ini coba diterapkan di sekolah.
Sebagaimana kata-kata bijak as you sow so shall you reap (apa yang kamu tanam itulah yang kamu tuai) maka kita patut was-was terhadap apa yang akan kita tuai di kemudian hari. Perubahan hanya bisa terjadi dengan dimulainya perubahan cara berpikir. Jika para pelaku pendidikan tidak pernah berubah dalam cara berpikir dalam memandang pendidikan, maka jangan berharap banyak terhadap kemungkinan perubahan di dalam sistem pendidikan kita.
Kita bisa berharap bahwa para pelaku pendidikan akan mencapai autonomi moral dimana  kemampuan untuk mencapai pandangan moral yang bernalar, yang didasarkan pada sikap tanggap terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Semoga.

KUSHANDAJANI
Dosen FISIP
Universitas Diponegoro
Semarang

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Karya/Publikasi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Satu Respon untuk Air Mata Guru

  1. Bukan hanya karena saya adalah anak dari seorang Guru, tetapi saya menyukai betul salah satu kalimat di dalam tulisan ini, yaitu: ….”Guru akan kehilangan legitimasi moralnya jika anak didik mengetahui, mendengar apalagi melihat sikap dan perilaku gurunya yang bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran yang selama ini coba diterapkan di sekolah…. (Kushandajani, 2007), karena bagi saya, “Guru digugu lan ditiru”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *