Haji Badal

Haji Badal bagi Kedua Orang Tuaku
Sebuah Perjalanan Spiritual dalam Proses ”menjadi” Orang Tua

2006. Kakiku melangkah pelan memasuki masjid Nabawi (Madinah). Kucari tempat bagi sholat tahajjudku. Berkelebat dalam ingatanku ayahku yang telah meninggal tahun 1997. Seorang ayah yang sangat penyayang dan sekaligus sebagai sahabat hati. Setelah sholat kuedarkan pandanganku di dalam masjid, sambil menerawang aku berniat…”setelah aku berhaji, berarti aku memenuhi syarat untuk menghajikan ayahku sembari kuajak ibuku berhaji bagi dirinya sendiri”. Khayalanku meledak dalam desakan kuat untuk kembali lagi berhaji bagi ayahku.

2007. Tanggal 30 November Ibuku berulang tahun yang ke-80. Kami bersuka cita bersama mensyukuri nikmat kebersamaan yang kami rajut dalam keluarga besar kami. Dalam setahun itu tak terputus doronganku pada ibuku agar menunaikan ibadah haji. Setiap kubisikkan kata haji, Ibuku tersenyum…..”apakah nanti tidak merepotkanmu ? Ibu sudah tua dan tenaganya sangat terbatas…” Aku menjawab, ”tak usah khawatir bu, aku siapkan kursi roda, aku sudah siapkan semuanya yang aku bisa untuk mendampingi ibu ke Baitullah”. Meski matanya berpijar penuh harap, namun di sudut yang lain muncul keraguan seakan-akan sudah merasakan bahwa waktunya hampir habis.

2008. Aku sedang mengetik sesuatu di kantor, tiba-tiba telepon genggamku berdering. Adikku berseru di seberang sana..”mbak, pulanglah…ibu sudah tiada..”. Ibuku…perempuan berwatak halus, berwajah ningrat (bahkan aku sering mengaguminya, karena wajahku tidak secantik beliau) telah pergi meninggalkan segalanya. Aku tahu, tidak seorangpun yang bisa meramal kapan ”panggilan” kematian akan tiba. Innalilahi wainailaihi rojiun. Hari ketujuh berlalu sejak kematian ibuku. Kami bersembilan anak duduk melingkari meja makan di rumah kakakku. Kesedihan masih melingkupi wajah kami. Tiba-tiba aku nyeletuk ”jika tanah pemberian ibu untukku terjual, itulah waktuku berhaji badal bagi ayah dan ibu”. Kakak dan adik terkejut mendengar niatku. Keinginan untuk menghajikan beliau berdua begitu kuat. Acapkali aku bermimpi mencari-cari dimana ayah dan ibuku tinggal kini; setiap pintu kubuka, setiap kamar kumasuki, bahkan suatu kali aku bertanya pada penjaga bangunan dimana bapakku sekarang tinggal….dijawab olehnya ”bapakmu memang pernah tinggal di sini…tetapi sekarang sudah berpindah tempat”.

2009. ”Mbak, tanahmu mau dibeli orang”, begitu adikku bicara keras-keras di telepon. Aku tertegun, ”inikah waktunya ?” . Di seberang sana adikku bicara lagi, ”tapi pembeli minta tanah diukur kembali, karena ada kejadian setelah tanah diukur lagi ternyata ukurannya lebih kecil dari yang tertera di sertifikat ”. Aku iyakan apa mau pembeli, aku ikhlas apapun hasilnya itu adalah karunia Allah. Beberapa hari kemudian adikku telepon lagi, ”Mbak, subahannallah, tanahmu lebih luas dari yang tertera di sertifikat, bertambah kira-kira 4 ubin (=ukuran tradisional masyarakat Banyumas, 1 ubin = 14 m2)”. Aku tertegun (lagi).

2010. Pesawat mulai mendekati Yam-lamlam (salah satu miqot bagi jemaah haji), aku dan suamiku saling bergenggam tangan dan berucap ”labaik allohumma umrotan an….(kami masing-masing menyebut nama ayah dan ibuku). Teringat kata-kata seseorang ”berhaji badal bagi orang tua, bapak atau ibu, biasanya lebih berat. Karena secara emosional kita terikat kuat dengan kenangan keduanya”. Air mata menetes saat thowaf… menatap Ka’bah sembari berucap ”subhanallah walhamdulillah…..”. Bersholat sunnah di belakang Maqom Ibrahim, sambil sujud ku berdoa, “ampuni dosa ayah ibuku ya Allah…. yang Maha Baik….berikan tempat yang indah bagi ayah ibuku……jodohkan mereka berdua di surgamu….dan makin islam dan imanlah mereka berdua bagiMU…”. Bersa’i dari Sofa ke Marwah adalah simbol perjuangan seorang ibu untuk anaknya. Maka teringat kembali perjuangan ibuku membesarkan, melindungi, mendidik putra putrinya yang berjumlah 9 orang dengan kesulitan hidup yang tak terperi. Di bukit Sofa Marwah aku merenung…..disinilah posisiku sekarang….sebagai ibu dari anak-anakku. Sebagai wanita mungkin terkesan lemah dan tidak berdaya. Namun jika dihadapkan pada nasib anak-anaknya perempuan menjadi sangat kuat….sekuat Siti Hajar saat harus mencari air bagi putranya Ismail. Seorang ibu juga bisa menjadi singa yang sangat kuat manakala dihadapkan pada nasib anak-anaknya. Sai memberi kekuatan bagi perempuan manapun untuk mengingat hakekat keibuannya dan makna pentingnya bagi keluarga. Malam pertama di madinah, saat jam menunjukkan pukul 02.00 malan waktu setempat, tiba-tiba suamiku mengetuk pintu kamarku. Saat aku keluar, suamiku memelukku sembari berucap, “aku mimpi bertemu ibu …. Seakan kita sedang akan bermalam di rumah ibu, lalu ibu menyambutku dengan pelukan dan tangisan sembari berkata lembut….matur nuwun ya Di (nama panggilan untuk suamiku)”. Maka meledaklah tangisku. Kupeluk suamiku sambil kubisikkan kata yang sama “terima kasih….karena dengan iklas melaksanakan semuanya”. Kami berdoa bersama mudah-mudahan haji badal kami diterima oleh Allah SWT bagi kedua orang tuaku……Amin.

Tentang Kushandayani

Lahir di Purwokerto, alumni SMA 2 Purwokerto angkatan 1981. Alumni Fisip Undip 81, bekerja sebagai dosen di almamater sejak 1986.
Tulisan ini dipublikasikan di Catatan Kaki. Tandai permalink.

8 Respon untuk Haji Badal

  1. ode berkata:

    menginspirasi dan bagus banget…..saya jadi semakin tertantang untuk membahagiakan kedua orang sebelum ….mereka pergi meninggalkan saya.

    • Kushandayani berkata:

      Membahagiakan orang tua itu tidak harus melakukan “hal-hal besar”. Tindakan yang dianggap “kecil-kecil” saja juga mampu membuat orang tua bahagia, seperti mencium tangan dan mengecup pipi ibunya setiap mau pergi. Karena saya sadari setelah menjadi orang tua bahwa perhatian dari anak-anak akan selalu menyentuh perasaan saya, dan memang rasa cinta itu juga semestinya diekspresikan dengan sentuhan dan ucapan.

  2. kholilur rohman berkata:

    labbaikallohumma labbaik…doakan sy bu semoga segera bs menunaikan rukun islam yg terakhir.amien…

  3. Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:

    * Untuk memotong rumput 2000 Rupiah
    * Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini 1000 Rupiah
    * Untuk pergi ke toko disuruh ibu 500 Rupiah
    * Untuk menjaga adik waktu ibu belanja 1500 Rupiah
    * Untuk membuang sampah 500 Rupiah
    * Untuk nilai yang bagus 5000 Rupiah
    * Untuk membersihkan dan menyapu halaman 2000 Rupiah
    * Jadi jumlah utang ibu adalah 12.000 Rupiah

    Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya Dan inilah yang ia tuliskan:

    * Untuk sembilan bulan ibu mengandung kamu, gratis
    * Untuk semua malam ibu menemani kamu, gratis
    * Mengobati kamu dan mendoakan kamu, gratis
    * Untuk semua saat susah dan air mata dalam mengurus kamu,
    gratis
    * Untuk semua mainan, makanan, dan baju, gratis
    * Kalau dijumlahkan semua, harga cinta ibu adalah gratis
    * Anakku… dan kalau kamu menjumlahkan semuanya apa yang
    telah ibu lakukan, akan kau dapati bahwa harga cinta ibu adalah
    GRATIS

    Seusai membaca apa yang ditulis ibunya Sang anak pun berlinang air mata dan menatap wajah ibunya Dan berkata: “Bu, aku sayang sekali sama ibu” Kemudian ia mengambil pulpen Dan menulis sebuah kata dengan huruf-huruf besar: “LUNAS”.

    • Kushandayani berkata:

      Alhamdulillah……bagus banget ceritanya Har..Semua anak akan mengalami proses kehidupan, dari anak lalu menjad orang tua. Masalahnya banyak juga orang yang hanya sekedar bertambah tua usianya tetapi tidak pernah menjadi “orang tua” yang sesungguhnya.

  4. D Sekar Kencono berkata:

    kasih ibu sepanjang jalan….
    sebuah pepatah yang benar adanya dan benar-benar saya rasakan
    dalem sekali ibu ini tulisanya
    jadi teringat ketika Ibu saya meminta saya untuk segera menyelesaikan skripsi dan menjalani sidang pendadaran sebelum naik ke meja operasi mengangkat rahimnya karena mengalami pandarahan hebat menjelang menoupose-nya
    yah penghujung desember 2010, mungkin agakberlebihan dimata teman-teman seangkatan saya

    “mosok Sekar sidang skripsi di temani orang tuanya…”
    saya tahu ini jadi sebuah pergunjingan diantara teman2 saya
    akan tetapi ibu saya hanya ingin melihat anaknya berjuang memperoleh S1-nya dengan baik itulah alasan yang sebenarnya

    melihat posisi ibu yang sedang sakit seperti itu saya pun menunda wisuda pada bulan januari menjadi april
    karena sudah tak bisa di obati lagi pendarahan yang ibu alami, akhirnya pada awal februari 2011, saya mengantar beliau ke RS untuk menjalani operasi pengakatan rahim.

    alhamdulillah betapa besar karunia ALLAH Yang Maha Rahim
    dalam waktu 4hari ibu sudah pulang dan sehat tanpa mengalami keluhan yang berat
    kalo mengingat umur memang biasa ada lah penyakit orang tua seperti mudah capek dan kolesterol itu wajar
    besar harapan saya untuk terus bisa mendampingi beliau dan memberangkatkan haji kedua orangtua
    semoga doa saya di jabah ALLAH SWT amin.

    Tak ada seorangpun orang tua terutama seorang ibu tak ingin melihat buah hatinya menjadi sesorang yang bisa dibanggakan
    betapa besarnya peran seorang ibu..
    lebih dari sekedar tiang penopang
    lebih dari sekedar perpustakaan awal
    kemajuan peradaban sebuah bangsa bisa jadi tergantung pada kaum wanita terutama seorang ibu
    karena dari seorang ibu akan lahir generasi pembangun bangsa dan menjadi penerus

    pertanyaannya yang muncul dalam benak saya adalah
    “bisakah saya dan wanita2 muda lajang ini yang kelak menjadi seorang istri dan ibu melahirkan dan mendidik generasi yang akan datang untuk bisa memimpin untuk memperbaiki keadaan dunia setidaknya negara kita ini?”
    Doakan kami ya Ibu semoga bisa menjadi seorang pendamping dan ibu yang baik amin 🙂

    • Kushandayani berkata:

      Dear Sekar Kencono, aku ikut terharu membaca kisah hidupmu. Seandainya saja tiap anak bisa merasakan kasih sayang ibunya, dan sebaliknya tiap ibu bisa mencurahkan kasih sayang pada putra putrinya. Indah nian dunia ini. Namun tidak tiap anak merasakan kasih sayang, dan tidak tidap ibu “mampu” menyayangi. Jadi…anda termasuk anak yang beruntung karena dicintai, dan ibumu beruntung karena memiliki anak yang hormat dan mencintai ibunya. Jika kamu sudah memiliki perasaan sedalam itu, aku yakin kamu juga mampu membimbing anak-anakmu kelak ke arah kebaikan. Salam hangat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.